Petunjuk lain terdapat pada lokasi.
Tulisan satir menyebut peristiwa terjadi di Kota Bandar Kipung. Istilah tersebut jelas menyerupai nama Bandarlampung, tetapi sengaja diplesetkan.
Lebih spesifik lagi, cerita menyebut Hotel Robinson yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan.
Jika permainan nama tersebut dibaca sebagai kode, “Robinson” dapat diasosiasikan dengan Radisson, sementara “Bandar Kipung” dapat dibaca sebagai plesetan Bandarlampung.
Artinya, cerita tersebut memberikan bukan hanya kode mengenai siapa, tetapi juga petunjuk mengenai di mana dugaan peristiwa disebut terjadi.
Namun sekali lagi, kesamaan atau kemiripan nama tidak dapat menjadi bukti bahwa sebuah peristiwa benar-benar terjadi di lokasi tersebut.
Dari Satire Menjadi Percakapan Politik
Yang membuat isu ini berbeda adalah kemunculan lebih dari satu tulisan dengan tema serupa.
Tulisan pertama secara eksplisit mengangkat “skandal cinta dua anggota dewan”. Tulisan kedua menggunakan frasa “dobrakan pintu” dan “skandal dewan kota”.
Kedua judul tersebut memiliki benang merah: adanya dugaan persoalan pribadi anggota legislatif yang kemudian terbongkar melalui sebuah tindakan membuka atau mendobrak pintu.
Karena itu, isu tersebut tidak lagi sekadar muncul dalam percakapan informal. Ia telah memperoleh ruang dalam produk media, meskipun disampaikan melalui gaya satir.
Hal tersebut menjadi penting karena isu mengenai E dan S disebut telah menjadi perbincangan di kalangan politisi dan legislator di Lampung.
Tetapi terdapat garis tegas yang harus tetap dijaga.
Tulisan satir adalah petunjuk mengenai adanya isu, bukan bukti mengenai kebenaran isi isu.
Siapa E dan S?
Informasi yang berkembang di lingkungan politik menyebut isu tersebut dikaitkan dengan dua anggota DPRD Kota Bandarlampung berinisial E dan S.