Prof. Warsito: Tradisi Kemahasiswaan Harus Naik Kelas, Bukan Sekadar Ritual
Prof. Warsito: Tradisi Kemahasiswaan Harus Naik Kelas, Bukan Sekadar Ritual--
Prof. Warsito, S.Si., DEA, Ph.D.
Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Kemenko PMK
Ada kegelisahan yang terus mengusik pikiran saya tentang kehidupan kemahasiswaan di kampus. Bukan semata karena terjadinya keributan dalam sebuah parade mahasiswa. Bukan pula hanya karena arak-arakan setelah wisuda yang sesekali berujung benturan, atau munculnya baliho, simbol, dan atribut yang tidak selalu jelas relevansinya dengan tema akademik dan kehidupan kampus.
Yang lebih menggelisahkan adalah pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tradisi kemahasiswaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya masih menjadi instrumen pendidikan, atau perlahan berubah menjadi sekadar ritual, ekspresi identitas kelompok, dan reproduksi kebiasaan masa lalu?
Pertanyaan ini penting karena organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan. Organisasi mahasiswa adalah laboratorium pendidikan karakter, kepemimpinan, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. Di sanalah mahasiswa belajar berbeda pendapat tanpa bermusuhan, memimpin tanpa mendominasi, berkompetisi tanpa merendahkan, menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, dan memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Tradisi adalah Warisan untuk Masa Depan
Setiap generasi menerima sesuatu dari generasi sebelumnya: nilai, norma, kebiasaan, simbol, cerita, ritual, dan cara hidup. Tetapi warisan itu pada hakikatnya bukan untuk sekadar diulang. Ia diwariskan karena generasi sebelumnya memiliki harapan agar generasi berikutnya mampu menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dalam makna yang lebih dalam, apa pun yang diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya semestinya diarahkan untuk mewujudkan impian tentang masa depan: kehidupan yang lebih berilmu, lebih bermartabat, lebih bermanfaat bagi sesama, dan—dalam orientasi religius—mencapai sukses di dunia dan di akhirat. Karena itu, tradisi harus selalu diuji oleh tujuan besarnya: apakah ia membantu generasi berikutnya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik?
Di sinilah kita perlu membedakan antara mewariskan nilai dan mewariskan bentuk. Nilai adalah ruh; bentuk hanyalah kendaraan. Ketika kendaraan lama tidak lagi sesuai dengan kondisi zaman, yang perlu dilakukan bukan memaksanya tetap berjalan, tetapi mencari bentuk baru yang mampu membawa nilai yang sama menuju tujuan yang lebih baik. Tradisi tidak harus dihapus. Tradisi harus ditransformasikan.
Ormawa: Bukan Sekadar Aktivitas, tetapi Bagian dari Tridharma
Mahasiswa bukan hanya penerima manfaat pendidikan tinggi, tetapi bagian dari ekosistem pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Melalui organisasinya, mahasiswa dapat berkontribusi pada pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengembangan gagasan, serta pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, kegiatan organisasi mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada seberapa ramai sebuah acara, seberapa banyak pesertanya, atau seberapa meriah penampilannya.
Kegiatan mahasiswa perlu menghasilkan dampak dan, sejauh relevan, berkontribusi terhadap capaian institusi, termasuk Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi. Prestasi mahasiswa, inovasi, kewirausahaan, mobilitas, kolaborasi dengan mitra, proyek sosial, karya ilmiah, pengembangan talenta, dan pengabdian kepada masyarakat adalah ruang konkret agar aktivitas kemahasiswaan terhubung dengan misi pendidikan tinggi.
Dalam kerangka itu, organisasi mahasiswa dapat dilihat setidaknya dalam dua bentuk besar. Pertama, organisasi yang bersifat substantif-keilmuan dan Tridharma, yakni yang berorientasi pada pengembangan ilmu, riset, inovasi, pendidikan, pengabdian, prestasi, dan kontribusi sosial. Kedua, organisasi yang bersifat manajerial, yakni yang menjadi ruang belajar kepemimpinan, administrasi, komunikasi, pengelolaan program dan keuangan, jejaring, kerja sama, serta penyelesaian konflik. Keduanya sama penting, tetapi harus bermuara pada tujuan yang sama: membentuk mahasiswa yang kompeten, berkarakter, produktif, dan mampu memberi dampak.
Dari Student Activity Menuju Student Development
Sumber: