Menata Unila: Berakar, Mandiri, Berdampak & Mendunia

Menata Unila: Berakar, Mandiri, Berdampak & Mendunia

Menata Unila: Berakar, Mandiri, Berdampak & Mendunia--

Oleh: Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D.*

ADA satu ungkapan dalam bahasa Prancis yang selalu terasa dekat dengan cara saya memandang kepemimpinan: Si Dieu me choisit et que cette responsabilité m’est confiée (Jika Tuhan memilih saya dan amanah ini dipercayakan kepada saya.

Bagi saya, ungkapan itu bukan tentang hak seseorang untuk menduduki sebuah jabatan. Sebaliknya, ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan merupakan amanah. 

Karena itu, siapa pun yang dipercaya memimpin Universitas Lampung (Unila) harus bekerja untuk seluruh sivitas akademika, bukan untuk kelompok tertentu.

Saya telah cukup lama hidup di dalam dan di luar kampus. Sejak 1995 saya mengabdi di Unila, menjalani berbagai tanggung jawab mulai dari tingkat jurusan dan fakultas, pusat pengembangan kurikulum, Senat Universitas, hingga Dekan FMIPA. 

Pengalaman itu kemudian membawa saya menjalankan tugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris serta terlibat dalam koordinasi kebijakan nasional di Kemenko PMK.

Dari perjalanan tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: Unila tidak kekurangan orang pintar. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk menghubungkan seluruh kepakaran, sumber daya, aset, jejaring, dan energi yang kita miliki menjadi kekuatan bersama.

Jangan Mulai dengan Program Baru

Jika amanah itu suatu hari dipercayakan kepada saya, saya tidak ingin memulai dengan pertanyaan: program baru apa yang harus dibuat?

Saya justru ingin memulai dengan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sudah kita miliki, apa yang belum bekerja optimal, dan apa yang bisa kita lakukan agar seluruh potensi tersebut menghasilkan nilai yang lebih besar?

Karena itu, seratus hari pertama seharusnya menjadi masa untuk mendengar, membaca data, melakukan diagnosis, dan membangun konsolidasi.

Kita perlu mengetahui secara jujur bagaimana pengalaman belajar mahasiswa, persoalan kelulusan tepat waktu, kapasitas laboratorium, fasilitas pembelajaran, layanan digital, mobilitas mahasiswa, prestasi, hingga pembelajaran di luar program studi.

Pada sisi lain, kita juga perlu memetakan kepakaran dosen, kelompok riset, tenaga kependidikan, kerja sama, aset, unit layanan, sumber pendapatan non-UKT, serta kondisi tata kelola.

Tujuannya bukan membuat tumpukan laporan. Kita membutuhkan satu data, satu diagnosis, satu peta prioritas, dan satu dashboard transformasi yang dapat dibaca bersama.

Sumber: