Menata Unila: Berakar, Mandiri, Berdampak & Mendunia

Sabtu 29-08-2026,00:45 WIB
Oleh: Admin

Ukuran sederhananya adalah: apakah penelitian tersebut digunakan, memberikan manfaat, dan menciptakan perubahan yang dapat diukur?

Untuk itu, Unila perlu memperkuat research cluster berbasis kepakaran sekaligus persoalan strategis. 

Pangan dan agroindustri, pesisir dan ekonomi biru, biodiversitas, energi bersih, kesehatan, lingkungan, teknologi dan digitalisasi, kebencanaan, tata kelola, kebijakan publik, serta sosial-budaya merupakan bidang yang memiliki ruang pengembangan besar.

Skripsi, tesis, disertasi, dan penelitian dosen juga perlu mulai dihubungkan dalam agenda riset yang berkelanjutan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Lampung Bukan Sekadar Lokasi

Di titik inilah saya percaya Unila memiliki keunggulan yang sangat besar. Lampung bukan sekadar tempat Unila berada; Lampung harus menjadi sumber ilmu pengetahuan Unila.

Pertanian, pangan, pesisir, kelautan, kehutanan, biodiversitas, energi, kesehatan, industri, lingkungan, kebudayaan, hingga persoalan sosial adalah laboratorium kehidupan yang nyata.

Bayangkan jika persoalan Lampung menjadi sumber pertanyaan ilmiah. Unila menghadirkan berbagai disiplin ilmu. Pemerintah, industri, masyarakat, dan komunitas menjadi mitra.

Mahasiswa belajar dari persoalan nyata. Dosen melakukan penelitian. Inovasi diuji. Solusi yang berhasil direplikasi. Dampaknya diukur.

Dari sana, pengetahuan yang lahir dari Lampung dapat dibawa ke tingkat nasional bahkan internasional.

Dengan demikian, akar lokal bukan hambatan untuk menjadi global. Justru akar lokal dapat menjadi sumber keunggulan global.

Mandiri Bukan Berarti Sekadar Mencari Uang

Kemandirian finansial memang penting. Tetapi universitas tidak boleh terjebak dalam cara berpikir bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan mencari uang sebanyak-banyaknya.

Saya tidak ingin income generating diterjemahkan sebagai komersialisasi kampus atau menjadikan kenaikan beban mahasiswa sebagai jalan termudah membiayai pertumbuhan.

Pendapatan non-UKT seharusnya tumbuh dari nilai yang diciptakan oleh ilmu pengetahuan, kepakaran, inovasi, jejaring, dan pemanfaatan aset secara bertanggung jawab.

Pendidikan berkelanjutan, sertifikasi, riset bersama, lisensi kekayaan intelektual, konsultansi, laboratorium pengujian, layanan profesional, teaching factory, living laboratory, pusat pelatihan, kerja sama industri, pemerintah, BUMN/BUMD, lembaga internasional, alumni, hingga program akademik global merupakan bagian dari ekosistem yang dapat dikembangkan.

Tags :
Kategori :

Terkait