Masa Depan dan Pemimpin Baru PTN di Lampung

Selasa 26-05-2026,18:43 WIB
Reporter : Admin
Editor : Admin

Dalam budaya Lampung dikenal prinsip “sakai sambayan”, semangat gotong royong dan saling menopang untuk mencapai tujuan bersama.

Nilai itu sesungguhnya sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi modern yang menuntut kolaborasi lintas disiplin, lintas institusi, bahkan lintas negara.

Kampus Diharapkan Berdampak bagi Daerah

Selain kualitas kepemimpinan, publik juga menaruh perhatian pada arah pengembangan perguruan tinggi ke depan. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan formal, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Potensi besar Lampung di bidang pertanian, perkebunan, kelautan, kehutanan, peternakan, perikanan, hingga pertumbuhan kawasan industri dipandang sebagai ruang strategis bagi pengembangan riset dan inovasi berbasis kebutuhan daerah.

Dalam konsep impact university yang kini berkembang di banyak negara, perguruan tinggi diukur bukan hanya dari jumlah lulusan atau publikasi, tetapi sejauh mana kehadirannya memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat perannya dalam pengembangan sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, ketahanan pangan, lingkungan hidup, hingga pembangunan sosial budaya masyarakat.

Kampus harus menjadi ruang lahirnya solusi, bukan sekadar tempat memproduksi ijazah.

Di sisi lain, perhatian terhadap bahasa dan budaya Lampung juga dinilai penting sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga identitas budaya daerah di tengah arus globalisasi.

Modernitas tidak boleh membuat kampus tercerabut dari akar budayanya sendiri. Sebab universitas yang besar bukan hanya yang dikenal dunia, tetapi juga yang tetap dekat dengan masyarakat dan identitas daerahnya.

Kapasitas Dinilai Lebih Penting daripada Identitas

Di tengah diskursus publik mengenai pergantian pimpinan perguruan tinggi, sejumlah kalangan juga mengingatkan bahwa kualitas kepemimpinan seharusnya tidak diukur berdasarkan identitas atau status alumni semata.

Menurut mereka, perguruan tinggi membutuhkan pemimpin yang dipilih berdasarkan kapasitas, integritas, pengalaman, jejaring, dan visi masa depan institusi.

Dunia pendidikan tinggi tidak boleh terjebak dalam romantisme kelompok, apalagi sekadar pertimbangan primordial yang justru mempersempit ruang meritokrasi.

Sejarah pendidikan tinggi di Lampung sendiri menunjukkan bahwa banyak tokoh dengan latar belakang beragam turut berkontribusi membangun dan membesarkan kampus-kampus negeri di daerah ini.

Kemajuan institusi lahir dari kemampuan menghimpun orang-orang terbaik, bukan dari kesamaan asal-usul semata.

Kategori :