Siswanto Mukti dan Radar Baru Polda Kaltim
--
Oleh: Majid Lintang
Kursi Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Kalimantan Timur berganti penghuni. Rabu, 26 Agustus 2026, Kombes Pol Siswanto Mukti menerima jabatan itu dalam upacara serah terima di Gedung Mahakam. Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro memimpin prosesi tersebut.
Siswanto bukan orang asing di provinsi ini. Delapan tahun lalu, pada 2018, ia pernah memimpin Polres Bontang selama sekitar satu tahun tujuh bulan. Kini ia kembali, tetapi dengan wilayah kerja yang lebih luas dan pekerjaan yang jauh lebih senyap.
Ia menggantikan Kombes Hadi Wiyono yang bergeser menjadi Agen Intelijen Kepolisian Utama Tingkat II Baintelkam Polri.
Mutasi tersebut mengikuti Surat Telegram Kapolri tertanggal 30 Juli 2026. Secara administratif, pergantian ini adalah bagian dari rotasi dan pembinaan karier personel Polri. Namun jabatan yang diduduki Siswanto memiliki arti lebih dari sekadar perpindahan meja.
Direktur Intelkam adalah salah satu pemegang radar keamanan di sebuah kepolisian daerah.
Ia bekerja dengan informasi yang belum tentu menjadi berita. Ia membaca gejala yang belum menjadi peristiwa. Dan, idealnya, ia mengenali potensi masalah sebelum masyarakat merasakan akibatnya.
Di Kalimantan Timur, radar itu bekerja di wilayah yang sedang berubah cepat.
Kaltim yang Tidak Lagi Sama
Ketika Siswanto menjadi Kapolres Bontang pada 2018, Kalimantan Timur belum berada dalam situasi seperti sekarang.
Kini provinsi ini menjadi salah satu panggung terbesar pembangunan nasional. Kehadiran Ibu Kota Nusantara membawa perubahan pada tata ruang, mobilitas manusia, investasi, proyek infrastruktur, serta kepentingan ekonomi.
Perubahan besar selalu membawa dua sisi.
Di satu sisi ada pertumbuhan. Di sisi lain ada kepentingan yang berpotensi saling berhadapan.
Bagi kepolisian, perubahan semacam itu membutuhkan kemampuan deteksi dini. Konflik agraria, persoalan ketenagakerjaan, aktivitas industri dan pertambangan, sengketa kepentingan, hingga dinamika politik dan sosial dapat berkembang menjadi persoalan keamanan apabila tidak dibaca sejak awal.
Sumber: