Siswanto Mukti dan Radar Baru Polda Kaltim

Siswanto Mukti dan Radar Baru Polda Kaltim

--

Ada kota-kota industri. Ada kawasan pertambangan. Ada wilayah pesisir. Ada kawasan perbatasan. Ada daerah yang sedang berkembang cepat. Dan ada masyarakat yang harus berhadapan dengan perubahan ekonomi serta tata ruang.

Semua itu menghasilkan kepentingan. Dan kepentingan, bila tidak dikelola, dapat berubah menjadi konflik.

Tugas intelijen adalah membaca titik-titik pertemuan kepentingan tersebut. Bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk mengetahui di mana potensi masalah mulai tumbuh.

Pesan Kapolda

Kapolda Kaltim meminta pejabat baru segera menyesuaikan diri dengan lingkungan tugas serta meneruskan program dan kebijakan yang sudah berjalan.

Kepala Bidang Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi menyebut mutasi dan rotasi sebagai hal yang wajar dalam organisasi Polri. Menurut dia, pergantian tersebut merupakan bagian dari pembinaan karier personel sekaligus kebutuhan organisasi.

Polda berharap pejabat baru meningkatkan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat.

Pesannya terdengar standar. Namun ada satu kata yang penting: respons. Polisi dituntut meningkatkan respons terhadap perkembangan situasi kamtibmas.

Dalam konteks intelijen, respons bukan semata-mata kecepatan mengerahkan personel. Respons dimulai jauh sebelumnya: kemampuan mendeteksi, memverifikasi, menganalisis, lalu memberikan peringatan yang tepat kepada pimpinan.

Karena itu, keberhasilan Direktur Intelkam sering kali justru tidak terlihat. Tidak ada kerumunan ketika sebuah konflik berhasil dicegah. Tidak ada sirene ketika potensi kerusuhan berhasil diredam sebelum pecah. Tidak ada berita besar ketika sebuah persoalan selesai di meja sebelum sampai ke jalan.

Kerja intelijen yang berhasil memang sering menghasilkan sesuatu yang paradoksal: tidak terjadi apa-apa.

Informasi intelijen harus tetap berada dalam koridor hukum dan profesionalisme. Kemampuan mendeteksi potensi gangguan keamanan tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk mengawasi masyarakat secara serampangan.

Di sinilah tantangan terbesar seorang pejabat intelijen. Ia harus cukup tajam untuk mengetahui apa yang sedang tumbuh di lapangan, tetapi cukup disiplin untuk membedakan ancaman nyata dari sekadar perbedaan pendapat.

Ia harus mampu membaca gejolak tanpa menciptakan gejolak baru. Dan ia harus membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan tanpa kehilangan jarak profesional.

Kapolda berharap Siswanto membangun sinergi dengan seluruh stakeholder dan meningkatkan profesionalisme kepolisian dalam menghadapi perkembangan situasi kamtibmas.

Sumber: