Ngaji Ala Tiongkok: Jalan Indonesia Emas 2045
Ngaji Ala Tiongkok: Jalan Indonesia Emas 2045--
Oleh Aprohan Saputra, M.Pd.
MODEL pembangunan ekonomi di China sering dijadikan contoh bagaimana sebuah negara mampu mengubah industri kecil dan usaha rumahan menjadi mesin pertumbuhan nasional. Ketika banyak negara berkembang bertumpu pada konglomerasi besar dan investasi asing, Tiongkok justru membangun kekuatan ekonominya dari desa-desa produktif, industri keluarga, serta usaha mikro yang tumbuh menjadi bagian penting rantai produksi dunia.
Keberhasilan tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Pemerintah Tiongkok secara aktif membangun ekosistem ekonomi rakyat melalui dukungan modal, infrastruktur, logistik, teknologi, pelatihan tenaga kerja, hingga akses pasar ekspor. Negara hadir bukan sekadar sebagai regulator, melainkan sebagai pencipta pasar bagi rakyatnya sendiri.
Penelitian dalam jurnal BRQ Business Research Quarterly berjudul Internationalization of Chinese SMEs: The Role of Networks and Global Value Chains menjelaskan bahwa UMKM Tiongkok berkembang pesat karena dukungan jaringan industri dan integrasi dengan rantai pasok global (global value chains/GVCs). Penelitian tersebut menemukan bahwa usaha kecil di Tiongkok mampu menembus pasar internasional karena adanya dukungan ekosistem industri dan konektivitas pasar yang kuat. (Sage Journals)
Konsep itu diperkuat oleh penelitian Uneven but not Combined Development: Rural Industrialisation on the East Coast of China yang menjelaskan bahwa industrialisasi desa di Tiongkok tumbuh melalui dukungan negara terhadap kawasan produksi berbasis komunitas. Desa tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi berkembang menjadi pusat industri dan perdagangan. (Taylor & Francis Online)
Tiongkok bahkan membangun kawasan-kawasan industri berbasis desa. Ada wilayah yang fokus memproduksi tekstil, furnitur, alat rumah tangga, elektronik, makanan olahan, hingga kerajinan. Industri rumahan diberi akses mesin produksi, pelatihan digital, kemudahan logistik, dan jalur pemasaran nasional maupun internasional.
Penelitian From Privatization to Deindustrialization: Implications of Chinese Rural Industry menyebut bahwa pertumbuhan industri desa di Tiongkok selama hampir 30 tahun ditopang oleh dinamika ekonomi berbasis komunitas dan akses terhadap sumber daya lokal. Dukungan itu membuat industri rakyat mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi nasional. (ScienceDirect)
Sementara itu, penelitian The Land System and the Rise and Fall of China’s Rural Industrialization menegaskan bahwa kebangkitan industrialisasi desa Tiongkok pada era 1980-an sangat dipengaruhi kebijakan negara dalam pengelolaan lahan kolektif pedesaan. Negara memberi ruang besar bagi tumbuhnya industri rakyat berbasis komunitas. (Directory of Open Access Journals)
Dalam konteks perdagangan global, pemerintah Tiongkok juga serius membantu UMKM masuk ke pasar ekspor. Platform seperti Alibaba dan Taobao berkembang menjadi jembatan antara produsen kecil dengan pasar dunia. Banyak eksportir besar di Tiongkok berawal dari industri rumahan berskala kecil.
Penelitian Cuierzhuang Phenomenon: A Model of Rural Industrialization in North China menunjukkan bagaimana sebuah desa di Tiongkok mampu berkembang melalui pengolahan, pengemasan, dan penjualan produk pertanian secara digital lintas wilayah. Teknologi dan perdagangan online dipakai untuk menghubungkan rakyat desa dengan pasar nasional maupun internasional. (arXiv)
Negara menciptakan pasar. Negara melindungi produksi rakyat. Negara membantu rakyat menjual produknya.
Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kritik terhadap arah pembangunan nasional muncul karena kebijakan ekonomi dinilai terlalu berorientasi pada investasi besar, impor, dan pertumbuhan makro, sementara pengusaha kecil masih berjuang sendirian menghadapi persoalan klasik: sulit modal, mahal logistik, lemahnya perlindungan pasar, serta minim akses ekspor.
UMKM memang sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional, tetapi dalam praktiknya banyak pelaku usaha kecil belum benar-benar mendapatkan dukungan sistematis untuk naik kelas menjadi industri besar.
Penelitian dari Universitas Gadjah Mada berjudul Reorientasi Kebijakan UMKM di Era Asia China Free Trade Area (ACFTA) bahkan mengingatkan bahwa tanpa perlindungan dan penguatan kebijakan, produk lokal Indonesia akan sulit bersaing dengan produk Tiongkok. Penelitian itu menyoroti pentingnya revitalisasi kebijakan modal, dukungan pemerintah, dan penguatan komoditas lokal agar deindustrialisasi tidak terjadi di Indonesia. (Journal UGM)
Sumber: