Di sinilah pekerjaan Siswanto dimulai. Ia tidak hanya dituntut mengetahui apa yang sedang terjadi. Lebih sulit lagi, ia harus membantu menjawab pertanyaan yang belum memiliki jawaban: apa yang kemungkinan terjadi berikutnya?
Intelijen Bukan Sekadar Mengumpulkan Informasi.
Dalam struktur kepolisian, intelijen kerap dibayangkan sebagai pekerjaan mengumpulkan informasi. Gambaran itu terlalu sederhana.
Informasi tanpa analisis hanyalah tumpukan data.
Direktorat Intelkam harus mengolah berbagai informasi menjadi gambaran situasi yang dapat digunakan pimpinan kepolisian untuk mengambil keputusan. Karena itu, tantangannya bukan cuma kecepatan memperoleh informasi, melainkan juga akurasi, verifikasi, dan kemampuan membaca konteks.
Sebuah kabar yang beredar di masyarakat, misalnya, belum tentu fakta. Sebuah konflik yang tampak kecil juga belum tentu akan membesar.
Sebaliknya, persoalan yang terlihat tenang dapat menyimpan tekanan yang tidak terlihat.
Di ruang seperti itulah profesionalisme intelijen diuji.
Sebab kesalahan membaca situasi bisa menghasilkan dua masalah sekaligus: aparat terlambat bertindak atau aparat bertindak terlalu jauh.
Keduanya sama-sama berisiko.
Dari Bontang ke Peta Kaltim
Pengalaman Siswanto di Bontang menjadi modal penting. Namun pengalaman masa lalu tidak otomatis menjadi jawaban bagi persoalan masa kini.
Bontang hanyalah satu bagian dari peta Kaltim.
Sebagai Direktur Intelkam, wilayah pengamatannya kini mencakup seluruh wilayah hukum Polda Kaltim. Itu berarti spektrum persoalannya juga jauh lebih beragam.
Ada kota-kota industri. Ada kawasan pertambangan. Ada wilayah pesisir. Ada kawasan perbatasan. Ada daerah yang sedang berkembang cepat. Dan ada masyarakat yang harus berhadapan dengan perubahan ekonomi serta tata ruang.
Semua itu menghasilkan kepentingan. Dan kepentingan, bila tidak dikelola, dapat berubah menjadi konflik.