Jembatan Kultural dan Ekologis dalam Edukasi Konservasi

Rabu 26-08-2026,17:26 WIB
Reporter : Admin
Editor : Admin

 

Oleh: Muhammad Hidayatullah

RIUH anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tugu Ratu Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat, mewarnai Global Tiger Day (GTD) atau Hari Harimau Sedunia Tahun 2026 yang diperingati setiap tanggal 29 Juli.

Di tengah lomba mewarnai, menggambar dan aksi merias wajah serupa harimau yang dimotori Wildlife Conservation Society (WCS). WCS menyelipkan satu elemen penting yang sering luput dari sorotan.

Bagaimana edukasi konservasi tidak boleh berhenti pada tataran seremonial. Tetapi harus membumi hingga ke dalam relung kesadaran masyarakat.

“Harimau marah jika rumahnya dirusak. Sama seperti kalian pasti juga marah jika sekolah dan rumah kalian dihancurkan,” demikianlah perumpamaan Perwakilan WCS, Ahmad Arifudin.

Saya sebagai Community Organizer (CO) Perkumpulan Ulayat Bengkulu turut serta menerjemahkan bahasa konservasi global ke dalam realitas keseharian masyarakat Tugu Ratu pada kesempatan itu.

Jika WCS membawa data ilmiah dan standar konservasi internasional, saya mengisi ruang kosong untuk membangun kesadaran berbasis keadilan ekologis.

Para guru memanfaatkan ruang tersebut untuk tidak hanya menguji ingatan anak-anak tentang ciri-ciri harimau, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa hutan adalah ‘perisai’ kampung halaman mereka.

Hutan berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan, menjaga warga Suoh dari bencana banjir, tanah longsor dan yang paling dekat dengan keseharian mereka yakni konflik dengan satwa liar.

Kolaborasi pada edukasi konservasi tersebut merupakan penanda, jika menjaga hutan dan menyelamatkan satwa harus bersifat multidimensi.

Kegiatan perlombaan tentunya dapat menjadi medium transformatif. Wali murid dan anak-anak, sebagai subjek edukasi, menyadari jika melestarikan hutan dan harimau berarti menjaga ladang dan mata pencaharian mereka sendiri.

Sehingga menjadi penting untuk mengingatkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap kearifan menjaga keseimbangan alam dan ligkungan.

Menyelamatkan Harimau Sumatra bukan hanya tentang menambah jumlah populasi di hutan. Tetapi tentang bagaimana generasi penerus di kampung-kampung penyangga hutan tumbuh dengan kesadaran, jika mereka adalah penjaga garda terdepan.

Perkumpulan Ulayat Bengkulu bakal terus memperkuat peran, karena ketika masyarakat mengelola konservasi secara langsung, di sanalah kita membangun harapan bagi hutan lestari dan satwa yang terlindungi.

Kategori :