Pilrek Unila, Prof. Warsito Jawab Isu Identitas

Pilrek Unila, Prof. Warsito Jawab Isu Identitas

Pilrek Unila, Prof. Warsito Jawab Isu Identitas--

BANDARLAMPUNG, LAMPUNG NEWSPAPER — Menjelang Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, penggunaan ungkapan “Kulo Nuwun” dan “Mulang Tiyuh” oleh Prof. Dr. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., menjadi isu identitas di ruang publik.

“Kulo Nuwun” digunakan Prof. Warsito saat mengikuti proses pemilihan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), sedangkan “Mulang Tiyuh” digunakan dalam konteks pencalonannya sebagai Rektor Unila.

Perbedaan kedua ungkapan tersebut kemudian dikaitkan dengan persoalan identitas Prof. Warsito. Ia menjelaskan, kedua istilah itu digunakan dalam konteks yang berbeda.

“Kulo Nuwun” merupakan ungkapan penghormatan ketika memasuki lingkungan atau ruang sosial orang lain. Sementara “Mulang Tiyuh” dalam konteks Lampung bermakna kembali ke kampung atau kembali memberikan pengabdian kepada daerah asal.

Penggunaan bahasa atau ungkapan, menurut dia, dapat disesuaikan dengan lingkungan sosial. Bahasa Jawa dapat digunakan dalam lingkungan Jawa, bahasa Lampung di Lampung, bahasa Indonesia dalam forum nasional, dan bahasa asing dalam forum internasional.

Keterlibatan Prof. Warsito dalam proses pemilihan Rektor UNS juga berlangsung dalam situasi kelembagaan yang tengah mengalami persoalan. Hasil pemilihan rektor pada akhir 2022 dibatalkan, Majelis Wali Amanat dibekukan oleh kementerian, dan kepemimpinan universitas kemudian dijalankan oleh pelaksana tugas hingga 2024.

Prof. Warsito mengatakan keterlibatannya dalam proses tersebut berkaitan dengan penugasan dan rekomendasi resmi yang diterimanya sebagai pejabat pemerintah. Penugasan tersebut tidak berarti meninggalkan Unila.

Prof. Warsito mengawali karier akademiknya di Unila, khususnya di lingkungan Fisika FMIPA. Ia pernah menjabat Sekretaris Jurusan Fisika, Ketua Jurusan Fisika, Pembantu Dekan I FMIPA, Ketua Senat Unila, dan Dekan FMIPA. Ia juga dikukuhkan sebagai guru besar pada usia 42 tahun.

Kariernya kemudian berkembang ke tingkat nasional dan internasional. Ia pernah ditugaskan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Paris, Prancis. Pada 2022, ia memperoleh penghargaan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan berkinerja terbaik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Saat ini, Prof. Warsito mengemban jabatan pimpinan tinggi madya di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan bidang tugas yang berkaitan dengan penguatan karakter dan jati diri bangsa.

Dalam pencalonannya sebagai Rektor Unila, salah satu gagasan yang disiapkan adalah penguatan kelembagaan riset terpadu singkong melalui kerja sama dengan Bappenas, Pemerintah Provinsi Lampung, dan industri.

Gagasan tersebut diarahkan untuk mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam pengembangan riset dan inovasi.

Sumber: