JAKARTA, LAMPUNG NEWSPAPER – PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) telah mulai mengimplementasikan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) yang berbasis polymer flooding di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES).
Proyek ini menandai penggunaan CEOR di lingkungan lepas pantai yang pertama kali di Indonesia. Injeksi polimer pertama kali dilakukan secara simbolis di Ruang Serbaguna RDTX Square, Jakarta, pada Rabu, 8 Juli 2026.
Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto, serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri.
Bagi sektor hulu migas, langkah ini bukan hanya sekedar penerapan teknologi baru. CEOR diincar sebagai salah satu strategi untuk mengoptimalkan lapangan yang sudah memasuki tahap tertentu (fase mature).
Yakni, fare dimana ketika produksi minyak dari metode konvensional terus menurun sementara sebagian cadangan masih tertinggal di dalam reservoir.
Djoko mengatakan penerapan CEOR di Lapangan Rama merupakan tonggak penting bagi pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia.
"Injeksi polimer perdana yang dilakukan oleh PHE OSES di Lapangan Rama adalah inovasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) lepas pantai pertama di Indonesia," katanya dalam Bahasa Inggris.
Dia berharap, teknologi tersebut mampu memberikan hasil recovery factor (faktor perolehan) yang lebih baik dan berdampak terhadap peningkatan lifting (pengangkatan) minyak nasional.
Diketahui, Lapangan Rama mulai berproduksi pada 1975 dan pernah mencapai puncak produksi sekitar 60.000 barel minyak per hari (barrels of oil per day/BOPD). Namun, selama puluhan tahun berproduksi, produksinya mengalami penurunan.
Pengelola kemudian menerapkan secondary recovery (pemulihan tahap kedua) melalui injeksi air untuk membantu mendorong minyak menuju sumur produksi.
Produksi Rama sempat berada di kisaran 12.600 BOPD. Namun, seiring perjalanan waktu, produksinya kembali turun hingga sekitar 3.500 BOPD sehingga diperlukan pendekatan tertiary recovery atau EOR.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sektor hulu migas di Indonesia. Di saat ladang baru semakin memerlukan investasi dan waktu yang lebih lama untuk dikembangkan, ladang-ladang lama masih menyimpan minyak yang secara teknis dapat dieksploitasi kembali.
SKK Migas mencatat bahwa faktor pemulihan dari Lapangan Rama baru mencapai sekitar 38 persen setelah hampir lima dekade operasi. Ini menunjukkan masih ada potensi minyak yang terkandung dalam reservoir.
Berdasarkan hasil proyek percontohan, CEOR diprediksi dapat meningkatkan faktor pemulihan sekitar 8,63 persen. Jika implementasi berjalan sukses seperti yang diharapkan, produksi Lapangan Rama diantisipasi dapat meningkat dari sekitar 3.500 BOPD menjadi sekitar 10.000 BOPD.
Untuk diketahui, CEOR salah satu metode EOR yang menggunakan bahan kimia untuk membantu meningkatkan jumlah minyak yang dapat diproduksikan dari reservoir.