Tanpa APBD, Satelit Lampung-1 Siap Meluncur 5 Agustus, Perkuat Pembangunan Berbasis Data

Senin 03-08-2026,13:42 WIB
Reporter : Nopri
Editor : Rio Aldipo

LAMPUNGNEWSPAPER.COM– Provinsi Lampung akan memasuki babak baru dalam pemanfaatan teknologi antariksa dengan peluncuran satelit Lampung-1 yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Agustus 2026 dari lepas pantai Shandong, Tiongkok.

Satelit tersebut akan diluncurkan dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites yang dikembangkan perusahaan antariksa STAR.VISION Aerospace.

Peluncuran Lampung-1 menjadi langkah strategis untuk mendukung pembangunan daerah berbasis data melalui pemanfaatan teknologi satelit hyperspectral. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara STAR.VISION Aerospace, Pemerintah Provinsi Lampung, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kerja sama tersebut bermula dari penandatanganan nota kesepahaman antara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan STAR.VISION Aerospace di Shandong, Tiongkok, pada 28 Mei 2025. Melalui kolaborasi itu, Lampung menjadi salah satu daerah pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi satelit hyperspectral untuk mendukung perencanaan pembangunan.

BACA JUGA:Tingkatkan Produksi Pertanian Pemprov Lampung Gandeng Investor Asal Tiongkok

BACA JUGA:Gubernur Lampung Ajukan KUA-PPAS 2026-2027, Fokus pada Fiskal Berkelanjutan dan Pelayanan Publik

Berbeda dengan proyek teknologi pada umumnya, pengembangan Lampung-1 tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Satelit tersebut merupakan aset milik STAR.VISION Aerospace yang dioperasikan oleh perusahaan, sementara Pemerintah Provinsi Lampung memanfaatkan data dan layanan yang dihasilkan untuk mendukung penyusunan kebijakan, pelayanan publik, serta pembangunan berbasis data.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, kehadiran Lampung-1 merupakan bagian dari transformasi tata kelola pemerintahan yang lebih modern dan berbasis teknologi.

"Di era sekarang, keputusan yang baik harus lahir dari data yang akurat. Lampung-1 akan membantu kita melihat kondisi daerah secara lebih cepat, lebih luas, dan lebih presisi sehingga kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," ujar Mirza.

Menurutnya, selama ini pemerintah masih mengandalkan survei lapangan untuk memperoleh data kondisi wilayah. Proses tersebut membutuhkan waktu, biaya, serta memiliki keterbatasan jangkauan sehingga berbagai perubahan di lapangan sering terlambat terdeteksi.

Melalui Lampung-1, pemerintah akan memperoleh data penginderaan jauh secara berkala yang mampu memantau kondisi wilayah secara lebih cepat, luas, dan akurat. Data tersebut diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran.

Teknologi hyperspectral yang dibawa Lampung-1 mampu menghasilkan informasi permukaan bumi dengan tingkat detail lebih tinggi dibandingkan satelit konvensional. Teknologi tersebut juga dipadukan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sehingga proses analisis data dapat dilakukan lebih cepat.

Pemanfaatannya mencakup pemantauan potensi banjir, longsor, dan kebakaran hutan, analisis kesehatan tanaman dan sistem irigasi, pemantauan kualitas sungai, pesisir, serta laut, hingga perkembangan jalan, kawasan industri, pertambangan, dan infrastruktur lainnya.

Selain itu, data satelit dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan tutupan lahan, perkembangan tanaman, kepadatan kendaraan, hingga mendeteksi pembangunan baru tanpa harus melakukan survei lapangan secara intensif.

Bagi sektor pertanian, teknologi ini diharapkan mampu membantu mendeteksi kondisi tanaman lebih dini sehingga potensi gagal panen dapat diantisipasi. Sementara bagi pemerintah, dunia usaha, dan kalangan akademisi, data yang dihasilkan menjadi sumber informasi strategis untuk mendukung penyusunan kebijakan, investasi, riset, dan inovasi.

Kategori :