Padahal yang dicegat itu relawan kemanusiaan, aktivis sipil, bahkan jurnalis Indonesia. Bukan kapal bajak laut. Bukan kapal perang. Bukan kapal isi sandal Swallow palsu.
Ini kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Tapi anehnya, istilah yang muncul malah “pengamanan”. “Sing salah kok malah diajeni.”
Yang bikin publik tambah greget, lokasi kejadiannya bukan di halaman Israel, melainkan di perairan internasional. Lha nek laut internasional wae iso dicegat sak karepe dewe, terus hukum internasional gunane opo?
***Dalam komunikasi politik internasional, pilihan istilah memiliki makna ideologis. Ketika pemerintah menyebut “pengamanan” terhadap penahanan relawan sipil, maka secara tidak langsung negara dianggap mengakui legitimasi tindakan zionis Israel.
Padahal banyak organisasi HAM internasional menilai intersepsi terhadap kapal sipil kemanusiaan di laut internasional dapat dikategorikan sebagai penahanan ilegal, tindakan koersif terhadap warga sipil, bahkan bentuk unlawful detention.
Dalam falsafah Jawa dikenal istilah “Ajining diri saka lathi.” Martabat seseorang terlihat dari tutur katanya. Dalam konteks diplomasi, pilihan kata pejabat negara bukan sekadar bahasa administratif, tetapi mencerminkan keberpihakan moral bangsa.
Karena itu, publik mempertanyakan mengapa diplomasi Indonesia justru menggunakan diksi yang terasa lebih dekat pada narasi resmi Israel dibanding perspektif korban kemanusiaan.
Dalam dunia akademik hubungan internasional, memang ada yang namanya realist diplomacy.
Bahasa gampangnya diplomasi yang super hati-hati demi stabilitas politik.
Namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diplomasi yang terlalu pragmatis dalam isu kemanusiaan dapat memicu krisis legitimasi moral negara.
Kajian dalam International Affairs Journal dan Journal of Humanitarian Diplomacy menunjukkan bahwa: publik global kini semakin menilai negara berdasarkan keberpihakannya terhadap HAM, bukan sekadar keseimbangan diplomatik, dan negara yang gagal menunjukkan empati terhadap korban sipil berisiko kehilangan otoritas moral.
Kalau terlalu realistis, kadang nurani malah ketinggalan di ruang rapat. Jadinya diplomasi terasa seperti presentasi PowerPoint: rapi, tenang, penuh istilah keren, tapi jauh dari rasa kemanusiaan.
Padahal rakyat Indonesia itu bangsa yang emosinya gampang nyala kalau urusan Palestina. Karena sejak kecil kita diajari "Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan". Bukan dihaluskan bahasanya.
Orang Lampung punya falsafah “Piil Pesenggiri", mengajarkan harga diri, kehormatan, dan keberanian menjaga martabat.
Nilai ini bukan hanya berlaku dalam kehidupan adat, tetapi juga relevan dalam sikap berbangsa dan bernegara.