Ono Opo, Sugiono Oh Sugiono

Jumat 22-05-2026,05:48 WIB
Oleh: Admin

Oleh Aprohan Saputra, M.Pd.

Ketua IWO Lampung

 

“Ono opo iki? Diplomasi Rasa Wedang Jahe, Tapi Gaza Lagi Kobong".

KALIMAT itu mungkin jadi reaksi pertama banyak orang ketika mendengar pernyataan Menteri Luar Negeri RI Sugiono soal penahanan relawan dan jurnalis Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza.

Di saat publik dunia sedang panas melihat relawan kemanusiaan dicegat di laut internasional, eh diplomasi kita malah terdengar adem kayak teh anget habis Magrib.

Sugiono bilang itu bukan penculikan. Bukan pula penyanderaan. Katanya cuma “intercept” atau pengamanan.

Lha kok ngono to, Pak Menlu?

Pernyataan tersebut bagi sebagian masyarakat terasa “ora ilok” — istilah Jawa yang berarti tidak pantas secara moral dan etika sosial.

Bagi masyarakat Lampung sendiri, sikap yang dianggap terlalu lunak terhadap penindasan sering disebut sebagai “cadang hati”, yakni kehilangan ketegasan nurani ketika melihat ketidakadilan di depan.

Pernyataan tersebut memantik kritik luas karena dianggap merelatifkan tindakan represif zionis Israel, melemahkan posisi moral Indonesia, serta mengabaikan fakta bahwa relawan sipil dan jurnalis ditahan secara paksa di perairan internasional.

Kalau wong kampung naik motor terus dicegat, dibawa paksa, HP disita, lalu tidak bisa pulang, biasanya warga tidak menyebut itu “pengamanan”. Minimal sudah teriak, “Maling! Culik!”

Tapi mungkin bahasa diplomasi memang beda level. Bahasa yang kadang bikin rakyat garuk-garuk kepala sambil ngomong: “Iki sing mumet aku opo bahasane?”

Orang Jawa punya istilah “Kakean ewuh pakewuh.” Terlalu sungkan sampai kehilangan ketegasan.

Nah, sebagian publik melihat respons Sugiono seperti itu. Terlalu hati-hati memilih kata sampai terasa kehilangan keberpihakan moral.

Kategori :