Pancasila sebagai Jalan Tengah dalam Pusaran Algoritma Digital

Pancasila sebagai Jalan Tengah dalam Pusaran Algoritma Digital

Pancasila sebagai Jalan Tengah dalam Pusaran Algoritma Digital--

Oleh Muhamad Rosit

Dosen Komunikasi Politik FIKOM dan Direktur Riset Komunikasi Network Society Indonesia (NSI)

DI tengah 235 juta jiwa pengguna internet (APJII, 2026) algoritma media sosial saat ini memiliki pengaruh yang tidak kalah besar jika dibandingkan dengan institusi sosial dalam membentuk opini dan persepsi publik.

Data ini menegaskan sebagian besar aktivitas dan interaksi masyarakat kini berlangsung di ruang digital yang berdampak secara signifikan terhadap perilaku warga Indonesia.

Oleh karena itu, pancasila memperkuat persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman di era algoritma. Hal ini penting mengingat penetrasi pengguna internet terus bertambah dan menjangkau berbagai lapisan kelas sosial. 

Lalu apa korelasinya dengan Indonesia? Secara geopolitik, Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Soekarno, adalah negara lautan yang ditaburi pulau-pulau atau bisa disebut negara kepulauan yang dipersatukan oleh cita-cita kebangsaan yang sama.

Dengan demikian, Internet harus bisa menjadi perekat sosial di tengah keberagaman, namun demikian jika tidak dikelola dengan bijak justru internet malah memperlebar polarisasi digital yang destruktif.

Relevansi Pancasila di Tengah Era Polarisasi Digital

Kita tentu masih ingat bahwa tingkat polarisasi politik pasca pemilu 2024 masih menyisakan kekhawatiran rakyat Indonesia. Bangsa ini benar-benar terbelah karena kepentingan politik, dan praktik polarisasi politik ini terjadi justru di ruang digital.

Menurut survey litbang Kompas pada 19-21 Juni 2023, sebagian responden menyatakan khawatir dengan potensi keterbelahan. Setidaknya lebih dari separuh responden (56 persen) merasa khawatir dengan adanya perpecahan di masa pemilu 2024.

Di era digital, algoritma media sosial memainkan pesan penting dalam membentuk opini dan persepsi publik. Akibatnya konten-konten yang bernuansa konflik seringkali lebih cepat tersebar dibandingkan dengan narasi persatuan.

Fenomena filter bubble dan echo chamber menegaskan bagaimana pengguna internet kerapkali terjebak dalam lingkaran informasi yang memperkuat perspektif mereka, dan sekaligus menghambat pemahaman yang inklusif.

Atas dasar itu, penyebaran nilai-nilai Pancasila di era algoritma menjadi jalan tengah dalam menciptakan persatuan bangsa.

Untuk memastikan Pancasila tetap masih relevan di era algoritma, maka diperlukan upaya literasi digital sebagai upaya untuk mendukung penyebaran konten yang positif berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Sumber: