Kemenko PMK: Menenun "Laboratorium" Damai di Jantung Lampung Tengah
Kemenko PMK: Menenun "Laboratorium" Damai di Jantung Lampung Tengah--
SINAR matahari pagi belum sepenuhnya menyengat Komplek Nuwo Balak, Perumahan Dinas Bupati Lampung Tengah, Selasa, 19 Mei 2025. Namun, riuh rendah percakapan dari pekarangan itu sudah menghangatkan suasana.
Di sudut pendopo, seorang pria berpeci hitam tampak asyik tertawa bersama seorang biksu berjubah saffron dan seorang pemuda berkemeja safari khas warga Hindu Bali.
Pemandangan ini bukan dekorasi panggung, melainkan potret harian Lampung Tengah—sebuah wilayah yang kerap dijuluki "Indonesia Mini" di Sumatera.
Hari itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) datang bukan sekadar untuk seremoni.
Mereka membawa sebuah misi besar: meresmikan Lampung Tengah sebagai "Laboratorium Kerukunan Nasional".
Selama ini, jika bicara soal toleransi, mata publik sering kali tertuju pada kota-kota di Jawa atau Indonesia Timur. Namun, data berbicara lain.
Pada tahun 2025, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Provinsi Lampung, khususnya Lampung Tengah, melesat ke angka 80,36.
Angka ini bertengger nyaman di atas rata-rata nasional yang berada di angka 77,89.
"Kerukunan bukan sekadar nilai luhur yang kita jaga di dalam lemari kaca. Ia adalah pilar utama dalam transformasi sosial dan prasyarat nyata bagi pembangunan nasional," ujar Prof. Warsito, Deputi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK RI.
Warsito, yang juga mantan Dekan FMIPA Universitas Lampung, memahami betul bahwa membangun sebuah daerah tidak bisa hanya mengandalkan semen dan beton.
Pembangunan infrastruktur fisik akan rapuh jika tidak dibarengi dengan kohesi sosial yang kuat.
"Lampung Tengah dengan segala kebhinnekaannya layak menjadi percontohan. Pluralitas di sini bukan hambatan, melainkan kekuatan penggerak," tegas Warsito dalam suasanya diskusi.
Namun, di balik rapor hijau tersebut, ada lampu kuning yang harus diperhatikan. Warsito membeberkan sebuah paradoks dalam Indeks KUB nasional.
Dari tiga pilar kerukunan—toleransi, kesetaraan, dan kerja sama—pilar terakhir justru memiliki nilai yang paling jeblok, yakni di bawah angka 70.
Sumber: