Menolak Lupa, Sarman Desak Keadilan Kanjuruhan
Aktivis sepakbola Sarman El Hakim memprotes Tragedi Kanjuruhan dengan mengenakan topeng Ketua FIFA Gianni Infantino di Kantor FIFA Indonesia, Jl. Jenderal Sudirman No. Kav 54-55 2, RT 5/RW 3, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu, 2 Agustus 2026. Foto --
JAKARTA, LAMPUNG NEWSPAPER – Di tengah lalu lalang kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, tepatnya di depan kantor FIFA Indonesia, pada Minggu, 2 Agustus 2026, seorang pria berdiri membawa spanduk bertuliskan, "Kami tidak akan pernah melupakan penderitaan Saudara Kanjuruhan kami".
Wajahnya bukan wajah sendiri. Ia mengenakan topeng Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) M. Mahfud MD sementara di sampingnya berdiri seorang yang menyerupai Presiden FIFA Gianni Infantino, dengan pesan: "We will never forget the misery of our Kanjuruhan Brothers."
Aksi sunyi itu dilakukan oleh Sarman El Hakim, aktivis sepakbola yang selama bertahun-tahun konsisten mengingatkan publik, agar tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan.
Tragedi sepakbola paling mematikan dalam sejarah Indonesia yang menewaskan 135 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya pada 1 Oktober 2022.
Berbeda dengan demonstrasi besar yang melibatkan massa, Sarman memilih jalan perjuangan yang nyaris sepi. Ia kerap datang seorang diri dengan membawa spanduk, poster, topeng tokoh sepak bola dunia.
Aksinya sederhana. Namun, sarat simbol dan makna yang dalam. Baginya, perjuangan menjaga ingatan jauh lebih penting daripada sekadar menjadi perhatian sesaat.
Sarman ingin menyampaikan pesan bahwa tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan belum boleh dianggap selesai hanya karena stadion telah direnovasi atau Indonesia terhindar dari sanksi FIFA.
Menurutnya, renovasi infrastruktur tidak dapat menggantikan kebutuhan akan keadilan bagi para korban dan keluarga yang hingga kini masih mempertanyakan proses penegakan hukum.
Sarman dikenal sebagai salah satu suara paling konsisten dalam mengawal isu Kanjuruhan. Ia berulang kali menggelar aksi di berbagai lokasi strategis, termasuk di depan kantor PSSI hingga kantor FIFA.
Ia juga kerap menggunakan simbol-simbol yang kuat untuk menyampaikan kritik. Topeng Gianni Infantino dipilih sebagai representasi kepemimpinan FIFA.
Pesan-pesan yang dibawanya ditujukan, agar dunia internasional tidak melupakan tragedi yang pernah mengguncang sepakbola Indonesia.
Aksi tersebut juga menjadi kritik terhadap narasi yang selama ini lebih banyak menonjolkan keberhasilan Indonesia mempertahankan hubungan baik dengan FIFA.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir beberapa kali menyatakan komunikasi intensif dengan FIFA berhasil menghindarkan Indonesia dari sanksi berat pasca-Kanjuruhan.
Namun bagi Sarman, ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari tidak adanya sanksi internasional atau pembangunan stadion baru.
Sumber: