"Tragedi Kanjuruhan semestinya menjadi momentum memperbaiki sistem keamanan pertandingan, tata kelola organisasi sepakbola, pembinaan usia muda, profesionalisme kompetisi, hingga transparansi dalam pengambilan keputusan," ujarnya kepada Lampung Newspaper.
Perjuangan Sarman juga mengingatkan publik pada berbagai tragedi sepakbola dunia yang menjadi titik balik reformasi besar, seperti Tragedi Heysel di Belgia pada 1985.
Saat itu, langkah tegas pemerintah Inggris dan otoritas sepakbola internasional melahirkan perubahan mendasar dalam aspek keamanan stadion, budaya suporter, dan profesionalisme kompetisi.
Menurutnya, Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadikan Kanjuruhan sebagai titik balik reformasi. Namun, kesempatan itu akan hilang apabila masyarakat mulai melupakan para korban.
Sarman mengingatkan bahwa fondasi sepak bola yang bermartabat tidak hanya dibangun melalui kemenangan di lapangan, tetapi juga melalui keberanian menghadapi masa lalu.
"Bukan hanya soal prestasi tim nasional, atau naturalisasi pemain, hingga pembangunan stadion," tegasnya.
Bagi Sarman, perjuangan itu sederhana tetapi berat, yakni memastikan 135 korban Kanjuruhan tidak sekadar menjadi angka dalam sejarah.
Selama keadilan masih diperdebatkan dan reformasi belum sepenuhnya terwujud, semboyan "Menolak Lupa" akan terus ia bawa, meski harus berdiri sendirian di tengah hiruk-pikuk ibu kota.