Pilrek Unila, Prof. Muhajir Utomo: Integritas Jadi Ukuran Utama
Prof Muhajir Utomo--
BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG NEWSPAPER – Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Pilrek Unila) periode 2027–2031 tidak sekadar menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ujian bagi komitmen universitas dalam menjaga marwah, integritas, dan kepercayaan publik.
Rektor Unila periode 1998–2007, Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. menegaskan bahwa siapa pun yang nantinya terpilih menjadi Rektor Unila harus mampu menjaga kehormatan institusi serta memberikan keteladanan kepada seluruh civitas academica.
Menurutnya, kriteria paling mendasar bagi seorang rektor bukan semata-mata kemampuan menyampaikan visi dan misi, melainkan kapasitas menjaga integritas dan nilai-nilai luhur perguruan tinggi.
"Siapa pun yang menjadi rektor terpilih harus menjaga marwah Unila. Rektor harus memberikan keteladanan kepada sivitas akademika. Kalau visi dan misi itu sudah template," tegas Prof. Muhajir, Minggu, 1 November 2026.
Ia menilai, visi dan misi pada dasarnya dapat disusun oleh siapa pun yang mengikuti kontestasi pemilihan rektor. Namun, integritas dan rekam jejak kepemimpinan merupakan hal yang tidak bisa sekadar dibangun melalui dokumen pencalonan.
Karena itu, Prof. Muhajir menekankan pentingnya rekam jejak kandidat, terutama dalam hal pencegahan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), transparansi, serta kepatuhan terhadap prinsip tata kelola universitas yang baik.
Menurutnya, seorang rektor harus menjadi figur yang mampu menunjukkan bahwa kekuasaan akademik dan jabatan struktural merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Integritas Tiga Calon Harus Menjadi Pertimbangan
Pandangan tersebut menjadi relevan setelah Senat Unila menetapkan tiga calon rektor yang akan melanjutkan tahapan pemilihan, yakni Prof. Asep Sukohar, Prof. Warsito, dan Dr. Budiyono.
Dalam penyaringan yang melibatkan 47 anggota Senat Unila, Dr. Budiyono memperoleh 22 suara, Prof. Warsito 15 suara, dan Prof. Asep Sukohar tujuh suara.
Ketiganya selanjutnya akan mengikuti tahapan akhir pemilihan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Prof. Muhajir berpandangan bahwa perbandingan terhadap ketiga kandidat harus dilakukan secara objektif. Penilaian tidak cukup hanya bertumpu pada jabatan akademik, pengalaman birokrasi, maupun capaian administratif.
Faktor integritas justru harus menjadi indikator utama dalam menentukan siapa yang paling layak memimpin Unila untuk empat tahun mendatang.
Ia juga menyoroti mekanisme pemilihan rektor yang memberikan bobot suara 35 persen kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menurutnya, mekanisme tersebut masih menyisakan ruang diskusi mengenai sejauh mana proses pemilihan benar-benar menjamin terpilihnya pemimpin berdasarkan kapasitas akademik dan integritas.
Sumber: