UIN RIL Perkuat Kapasitas DPL Wujudkan KKN Transformatif yang Berdampak
UIN RIL Perkuat Kapasitas DPL Wujudkan KKN Transformatif yang Berdampak--
LAMPUNGNEWSPAPER.COM – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (UIN RIL) menggelar Refreshment Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Transformatif Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat kapasitas pendampingan mahasiswa sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.
Kegiatan yang diikuti 116 DPL tersebut dibuka oleh Rektor UIN RIL yang diwakili Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dr. H. Andi Thahir, M.A., Senin (20/7/2026), di Ruang Teater Lantai 2 Gedung Academic & Research Center.
Dalam sambutannya, Prof. Andi menegaskan bahwa DPL memiliki peran penting dalam mengawal pelaksanaan KKN, tidak hanya memastikan program kerja berjalan, tetapi juga membimbing mahasiswa menjaga karakter, etika, dan nama baik almamater selama berada di tengah masyarakat.
"Pesan saya kepada Dosen Pembimbing Lapangan agar benar-benar memantau proses mahasiswa di lapangan. Kepada mahasiswa, jagalah character building UIN Raden Intan Lampung. Membangun reputasi membutuhkan waktu yang panjang, tetapi merusaknya bisa terjadi hanya dalam satu hari. Karena itu, mahasiswa harus mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang baik selama melaksanakan KKN," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan media sosial secara positif. Menurutnya, berbagai inovasi dan kegiatan yang memberikan manfaat kepada masyarakat perlu didokumentasikan dan dipublikasikan sebagai bagian dari penyebarluasan praktik baik sekaligus memperkenalkan citra positif UIN Raden Intan Lampung.
Selain itu, Prof. Andi meminta para DPL turut mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya pengisian tracer study setelah lulus. Data tracer study, menurutnya, menjadi salah satu indikator penting dalam penjaminan mutu dan akreditasi perguruan tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Intan Lampung, Dr. H. Ali Abdul Wakhid, S.Ag., M.Si., melaporkan bahwa pelaksanaan KKN Tahun 2026 merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui enam skema pengabdian, yakni KKN Transformatif, KKN Nusantara, KKN Tematik Pondok Pesantren, KKN Tematik Mengajar, KKN Tematik Dakwah Humanis, dan KKN Tematik Magang.
Secara keseluruhan, sebanyak 4.378 mahasiswa terlibat dalam pelaksanaan KKN tahun ini. Berbagai tahapan telah diselesaikan, mulai dari penyusunan panduan, koordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra, penetapan lokasi, pembagian kelompok, hingga pelepasan mahasiswa KKN Nusantara dan KKN Tematik Pondok Pesantren.
"Hari ini kita memasuki tahapan yang sangat penting, yaitu penguatan kapasitas Dosen Pembimbing Lapangan sebagai ujung tombak keberhasilan pelaksanaan KKN Transformatif. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, sekaligus membekali DPL dengan strategi pendampingan mahasiswa dan metodologi pengabdian kepada masyarakat," kata Ali.
Khusus KKN Transformatif, sekitar 2.180 mahasiswa akan diterjunkan mulai 1 Agustus 2026 di Kota Bandar Lampung. Mereka akan melaksanakan pengabdian di delapan kecamatan, 48 kelurahan, dan 116 lingkungan dengan pendampingan 116 DPL.
KKN Transformatif tahun ini mengusung tema Gerakan Kolaborasi Kampus dan Kota untuk Membangun Bandar Lampung yang Berkelanjutan melalui Penguatan Ketahanan Pesisir, Pengembangan Ekowisata Perkotaan, Ekonomi Hijau, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Pengentasan Kemiskinan.
Menurut Ali, tema tersebut mencerminkan komitmen UIN Raden Intan Lampung untuk menghadirkan pengabdian yang tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi menghasilkan dampak nyata melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN RIL, Dr. H. Eko Kuswanto, M.Si., menjelaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar bagi mahasiswa untuk hidup bersama masyarakat, memahami potensi dan persoalan di lapangan, serta menyusun program yang bermanfaat dan berkelanjutan.
"Di lapangan kita bukan ingin menggurui masyarakat, tetapi belajar bersama masyarakat. Mahasiswa belajar dari kearifan lokal, mengaplikasikan ilmu sesuai bidangnya, melatih kepemimpinan, mengembangkan empati sosial, membangun kolaborasi dengan mitra, serta menghadirkan program yang memberikan manfaat dan berkelanjutan," ujarnya.
Sumber: